Pages

  • Beranda
facebook instagram google+

my delusions

keep me alive

Kenangan itu seharga dua belas ribu rupiah, kubeli dalam semangkuk mi ayam. Kadang, kenangan juga bisa kudapat dengan harga sepuluh ribu rupiah, bila kubeli dalam secangkir kopi. Jika aku tak punya banyak uang, kubeli saja ia dengan uang lima ratus perak. Buatku, setangkai permen kaki juga menyimpan kenangan.
Sayangnya, ketika mi ayam dan kuahnya bisa kusesap hingga lesap, kenangan yang ia tinggalkan tak pernah lenyap. Meski kopi kutandaskan hingga tinggal ampas, kenangan tentangnya tak jua tumpas dari ingatan.
Besok atau lusa, aku masih bisa membeli kenangan lagi. Tapi, kapan-kapan aku ingin kau saja yang belikan! Agar bisa kubeli kenangan tentangmu, bukan tentangnya.
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Di tanah rantau, ketika sakit, sah-sah saja seorang pejuang hidup mandiri alias jomblo merasakan dilema dasar manusia. Sebuah kepercayaan bahwa kita akan hidup bahagia hingga akhir hayat dengan pasangan idaman merupakan salah satu bentuk delusi pada populasi normal. Pengharapan yang patut dipelihara demi keberlangsungan peradaban.
       
Jomblo merupakan sampel dari populasi manusia dengan dikotomi dasar yang dinamai oleh Erich Fromm sebagai "dikotomi eksistensial". Sadar bahwa dirinya adalah individu yang terpisah, di saat yang bersamaan mereka percaya bahwa kebahagiaan mereka bergantung pada ikatan mereka dengan manusia lain.
         

Dalam kesakitan dan kesendirian pada jarak yang terbentang dipisahkan Laut Jawa, angin serasa menumpangi wewangian rumput sabana. Melengkapi halusinasi penciuman anak rantau yan selalu rindu pulang. Anak yang sesekali membenamkan wajah pada bantal yang akan basah ketika membunuh sepi.
          

Kini ia mulai sadar jika hal tersebut bukan lagi tentang kelekatan antara anak dan orang tua, namun lebih kepada beban kebebasan yang harus ia topang. Rasa aman yang tercipta ketika berada di zona nyaman mulai berkemas untuk pergi dari hidupnya. Memberikan langkah awal kecemasan dasar memasuki dunianya.
          

Pandangan hidupnya untuk terus menjadi pejuang hidup mandiri sesekali tumbang. Tergantikan dengan dorongan eros. Ego menimbang dengan pertimbangan moralitas, menghasilkan sintesis untuk membangun sebuah keluarga dalam partisipasi membangun peradaban.
        

Kadang terpikir olehnya mencari pendamping untuk mendapatkan kepastian jika kelak, ketika telah renta, akan ada suami atau anak-anak yang mengurus hidupnya yang tak lagi biasa. Namun ia bukanlah seorang wanita dengan tingkat egoentrisme tinggi yang tak percaya cinta.
        

 Ia selalu percaya, jika nanti, akan ia temukan seseorang yang sudi berbagi cerita kebahagiaan dan waktu dengannya dikala senja. Menyaksikan mentari yang kandas pada cakrawala dengan semburat jingga yang terpantul syahdu dari ubin beranda rumah ke wajah teduh yang belum pernah bernama
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Beginilah kiranya jika memelihara hidup dalam kesendirian tanpa beroleh seorang kekasih. Terjaga tengah malam hilang akal hendak mengenangkan perihal apa. Mencari-cari perkara yang bisa untuk dikenangkan. Mengisi hati yang mendadak senyap dihantam oleh kelengangan malam. Apabila jiwanya ialah pujangga maka akan tercipta sajak-sajak bagus dan serasi. Tetapi akan jadilah ia sebagai sajak tak bertuan. Indah, namun hilang maknanya lantaran tak menaruh tujuan.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Tiadalah kuasaku dalam menyinggung perkara cinta yang telah lewat. Bahkan jika dalam hal menagih janji yang kau lisankan dengan hiasan tutur yang melenakan. Salah pula jika saya memegang paham "Apalah faedahnya mengikrarkan janji suci dalam kesakralan jika nantinya ikatan yang tersimpul kan terberai jua karena rapuh ucapmu"

Cinta hanyalah masalah ketika Tuhan mengarahkan hati pada suatu hati. Ketika kita dihadapkan pada pilihan yang sempurna, tetap saja cinta takkan menjadi ketika Tuhan tidak sedang mengarahkan. Hakikatnya cinta berhak tumbuh dimana saja. Besarlah malu saya meminta-minta kecintaanmu terhadapku yang telah tiada itu.

Nyatanya telah berapa kali saya menyatakan ikhlas, meski sebenarnya tidak pernah saya rasakan rela melihat engkau bercinta-cintaan dengan wanita selain daku. Hakikatnya pula begitulah cara manusia berkilah dengan sakit atas penanggungan rasa cintanya yang tak sampai pada maksud hati.

Janganlah berfikir saya tak pernah mencoba jalan baru. Sayapun ada pula berandai-berandai hidup bahagia dengan orang lain selain engkau. Tidak pula saya ingin menjadi orang yang merugi dimasa depan. Bertambah pula paham saya bahwa orang yang terjebak pada masa lalu adalah orang yang tak berbelas kasih dengan orang yang akan hidup dalam masanya yang akan datang.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Jika kau mengenal cinta, disanalah akan kau temukan Tuhan. Seseorang yg akan kau anggap lancang dalam menghadirkan atau mengangkatnya hingga tercerabut untuk pemaknaan cinta dalam pandangan sempitmu. Keputusan akal dangkalmu dalam mengutuki rasa sakit yang kau sendiripun takkan pernah mengerti bagaimana terciptanya. Dalam kesadaran bahwa bukan kau yang bertanggungjawab untuk menangkalnya. Jika harus kau amin-i ada kuasa yang tak bisa kau tolak, dengan setiap caranya itulah Tuhan mengajarimu memahami cinta.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Jika mencintaimu adalah bentuk kegilaan, maka sisa hidupku adalah ketidakwarasan. Dan aku tak ingin menjadi normal untuk tahu segala ke-morbid-an ini.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Semasa patah hati, sakit hati atau remuk hatinya adalah bahan bakar terbesar seorang pujangga menciptakan sajak-sajak indah nan bagus dan serasi. Begitu pula halnya ketika sedang jatuh cinta. Sesuatu yang berkaitan dengan rasa cinta dalam hati, entah itu yang membuat kadar endorfin meningkat dalam tubuh atau malah sebaliknya, mampu membuat imaji seseorang luntang-lantung tanpa batas. Lantas, jika hilang dari ucapnya atau gores penanya akan kata-kata yang indah itu, maka patutlah muncul kecurigaan jika cinta itu telah hilang dari hatinya.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

about me

about me

Follow Me

  • google+
  • facebook
  • instagram

Categories

  • cerpen
  • Flight of Ideas
  • Mozaik

Blog Archive

  • ►  2014 (11)
    • ►  September (1)
    • ►  November (6)
    • ►  Desember (4)
  • ►  2015 (1)
    • ►  Januari (1)
  • ▼  2016 (1)
    • ▼  Desember (1)
      • Kenangan
Diberdayakan oleh Blogger.

Visitors

Followers

pengunjung online

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates