Pages

  • Beranda
facebook instagram google+

my delusions

keep me alive


Tangannya kian beku merabai kaca jendela. Didengarnya suara hujan. Nafasnya dalam terhembus panjang. Berembun. Angin menjamahnya menjadi bulir-bulir air. Dua atau tiga detik membuatnya bergulir, merembes pada celah jemari. Meresap ke dalam pori.
          
"Ah, sudah tujuh bulan"

Tatapannya masih kosong, menerawang dari balik jendela. Seperti tujuh bulan yang lalu. Masih sama. Ada yang tak terisi dalam dirinya. Persis di dalam hati. Mendung di sudut matanya yang masih saja enggan untuk beranjak, harusnya berlalu dengan rasa kasih yang hampir habis menguap. Sebenarnya Ia hanya bimbang. Membenci ia tak mampu, memafkanpun ia belum rela.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Detik jam di pergelangan tangannya seirama satu banding dua dengan detak jantungnya. Ia yang sembari tadi diam bergeming, masih saja memandangi tetes air yang jatuh dari langit. Yang kasat mata dari fokus matanya. Dipeganginya cangkir kopi yang mulai dingin. Ia ragu-ragu. Tak terhitung sudah berapa kali cangkir terangkat lalu bertemu kembali dengan permukaan meja. Tak pernah sekalipun cairan pekat hitam itu mengalir disepanjang kerongkongannya. Bagaimana tidak, melewati celah bibirpun tak pernah. Rongga mulutnya ia biarkan kering semenjak tadi. Dari awal sejak ia meletakkan kedua belah bokongnya di kursi rotan kedai kopi pinggiran rel kereta api.
           
“Ah, tak terasa sudah tujuh bulan”

Masih tentang tujuh bulan. Tema yang sama sejak beberapa hari yang lalu. Setiap ia teringat tentang tujuh bulan, barulah detak jantungnya berpacu lebih cepat. Menjadi empat atau lima kali dalam satu detik jam tangannya. Setelahnya hanya debar yang kian menguat yang bisa ia rasa. Detik jam tak lagi terdengar. Matanya mulai memerah. Panas kepalanya. Darah di otaknya mendidih. Bulan ini 31 hari ia akan meratapi tentang tujuh bulan. Ia benci dengan dirinya sendiri, memikirkan jika harus ada 12 bulan yang ia ratapi dalam setahun dan tahun berikutnya akan berlipat ganda.
     
"Tuhan, aku ingin ikhlas"

Doanya tak pernah panjang. Cukup satu kalimat permintaan yang terlafalkan diantara kedua bibirnya. Ia percaya Tuhan pasti paham. Entah bersama dengan apa do'anya menuju langit ketujuh, karena sejak tujuh bulan yang lalu, Tuhan masih saja belum menjawab doanya. Doa satu-satunya.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

about me

about me

Follow Me

  • google+
  • facebook
  • instagram

Categories

  • cerpen
  • Flight of Ideas
  • Mozaik

Blog Archive

  • ►  2014 (11)
    • ►  September (1)
    • ►  November (6)
    • ►  Desember (4)
  • ►  2015 (1)
    • ►  Januari (1)
  • ▼  2016 (1)
    • ▼  Desember (1)
      • Kenangan
Diberdayakan oleh Blogger.

Visitors

Followers

pengunjung online

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates