Pages

  • Beranda
facebook instagram google+

my delusions

keep me alive


M-A-L-A-N-G. MALANG. Belum pernah ada kota yang kutemui memiliki kombinasi suasana hujan yang seromantis ini. Rinai yang jatuh nyaris tak bersuara. Hening. Syahdu, menyirami hati yang kemarau akan pengharapan. Menumbuhkan benih-benih asa yang nyaris mati. Formasi barisan yang rapat konstan dengan massa yang amat ringan. Menghujam kulit, meresap melalui celah pori, namun tak terasa sapuannya membelai. Diam-diam membasahi baju berbahan serat sintesis yang kukenakan. Dalam waktu sepersekian detik mampu membuatnya kuyup. Menjadikannya lekat, menyatu dengan kulit.

"Hei, tunggu Lin!" 

Lina berlari jauh di depanku. Susah payah kususul langkahnya yang besar-besar itu. Sesekali air hujan yang menggenang terciprat oleh hentakan sepatu mengenai ujung celana jeans yang kukenakan. Sempurna membuatku mendengus. Sebenarnya tak terlalu jauh jarak antara parkiran motor dengan gedung perkuliahan. Hanya 20 langkah kaki Lina dan 30 langkah untuk ukuran panjang kakiku. Sampai di teras gedung, Lina langsung mengibas-ngibaskan bajunya yang kadung basah. Tanpa mengindahkanku yang masih terengah-engah mendapati bibir teras, ia langsung mengeloyor masuk menuju pintu utama. Kutangkap sosoknya yang lamat-lamat lenyap diantara kerumunan mahasiswa, yang lalu-lalang memenuhi lobby gedung.
     
Sial. Persahabatan kami tak berlaku pada saat-saat seperti ini. Persis dosen mata kuliah hari ini yang sama sekali tak ingin mentolerir keterlambatan walau hanya satu detik. Kulirik angka pada jam tangan digitalku yang berembun dibalut air hujan. Kuusap terlebih dahulu. 14.55. Lima menit tersisa sebelum perkuliahan dimulai. Kuayunkan kaki berlari sekuat tenaga masuk ke dalam lobby.

"Ampun Tuhan," kutepok jidatku meski tak ada nyamuk hinggap di atasnya.

Di depan pintu lift puluhan anak sudah berbaris untuk mengantre, meski beberapa ada yang mencoba menyelinap diantara celah kerumunan. Ah, tak cukup waktu untuk mengantre. Kuputuskan naik ke lantai lima gedung dengan menaiki tangga. Satu, dua, tiga, hingga tiga puluh anak tangga mengantarkanku pada lantai dua. Nafasku masih teratur. Sembilan puluh anak tangga lagi batinku. Tujuh puluh hingga delapan puluh napasku mulai tersengal diburu waktu dan lelah. Asam laktat mulai memenuhi persendian. Jantung mulai berdegup bagai bom waktu yang hendak meledak. Darah mulai mengalir cepat ke segala penjuru tubuh. Daya hisap oksigenku mulai berkurang. Mulai sesak dadaku. Pening pula kepalaku.

"Hai Di," Ardan menyapaku dari arah berlawanan saat kami berpapasan.

Tak sempat kugubris sapaanya. Telah habis daya rasa-rasanya. Kini tinggal lima anak tangga yang tersisa dihadapanku. Dengan kekuatan yang tersisa kutapaki dengan perlahan. Kucoba untuk kembali menguasai diri yang sejak tadi mulai hilang keseimbangan. Berkunang-kunang dalam pandanganku. Kudapati sosok Lina di depan pintu. Ia tersenyum lebar. Mengejek.

"Itulah percaya kataku, janganlah kau berlama-lama di dalam kamar mandi," ia berucap sambil terkekeh.

"Dasar Batak sialan," gumamku.

Ia langsung menghampiriku yang berjalan dengan gontai, membantu mengarahkanku menuju ruang kelas. Beberapa detik setelah kami melewati daun pintu, dosen pengampu mata kuliah Psikiatri kelas ini menyusul masuk. Seorang wanita keturunan Arab. Rambutnya pendek, dipotong segi sebatas leher. Baju yang dipakainya hari itu amat kontras dengan cuaca di luar yang sedang hujan, namun sangat sesuai dengan warna kulit putih bersihnya. Rok rajutan setengah betis warna hijau dan baju dengan lengan sesiku warna putih tulang. Di belakangnya menyusul seorang pria dengan jaket kulit. Seusia dengan dosen kami perkiraanku.
     
Dari tempat dudukku kutatap rintik hujan yang kian menderas terlihat dari balik jendela kaca yang gordennya sengaja disibakkan. Dosen kami membuka perkuliahan yang setelahnya dilanjutkan dengan memperkenalkan lelaki tadi, yang kini kami ketahui namanya adalah Ridwan. Seorang Doktor lulusan luar negeri. Menyandang gelar Ph.D di belakang namanya. Hari ini beliau akan memberikan kuliah tentang neuroscience pada kami.
     
Aku mendengarkan dengan antusias setiap informasi yang disampaikan oleh Doktor tadi. Meski disaat yang bersamaan aku juga fokus menatap derai hujan yang turun dari langit bak mencipta tirai air yang memecah ruang partikel udara.

"Yang diturunkan adalah konstruksi mental, bukan perilakunya. Pengalaman diturunkan pada level epigenetik. Proses learning akan terkode pada DNA. Manusia mengalami predisposisi," Doktor tersebut berkata dengan mantap.

Semakin lama aku terhanyut pada pembahasan yang dilontarkan oleh Doktor tersebut. Sesekali kutatap wajah anak-anak lain yang mulai bersungut-sungut, karena khawatir jika ilmu di bidang psikologi yang sedang kami geluti saat ini takkan lagi dipakai dimasa mendatang. Tergantikan oleh ilmu tentang otak yang digadang-gadang saat ini, di luar negeri, sedang gencar dikembangkan.

"Kalau segala sesuatu bisa diubah dengan bantuan lingkungan, maka rumah sakit jiwa akan kosong penghuni. Orang dengan autisme takkan kita temui lagi. Begitulah besarnya peranan gen. Setiap gangguan mental pasti memiliki landasan biologis. Sesuatu yang tak mungkin ditolak. Seperti halnya kita tak bisa menolak untuk lahir dengan dua kaki dan dua tangan," Doktor tersebut kembali menegaskan argumennya dengan penuh keyakinan. "Setiap manusia memiliki reality testing. Namun seringkali mereka menghindari kenyataan ini. Saya tidak memaksakan bahwa apa yang saya katakan adalah sebuah kebenaran karena science itu bukan kebenaran, tetapi sebuah pembuktian. Salah satu syarat ilmu adalah, ia bisa disanggah." Ia mengakhiri kalimatnya untuk meredam perdebatan.

Aku tak langsung mengamini ataupun mengafirkan segala pendapat-pendapat dari perbincangan mereka. Toh dari kami semua tak ada yang sependapat dengan Darwin, tentang teorinya yang menyatakan bahwa manusia berasal dari kera. Imajiku lebih memilih melanglang buana menyusuri asal muasal pengkodean DNA yang kini kumiliki. Asal muasal, kenapa aku lebih suka mengikuti ajang menulis dan kenapa abangku lebih suka mengikuti lomba debat Bahasa Inggris. Menurut penjelasan Doktor Ridwan, anggap saja dahulu kala ada Homo Sapiens yang senang memanah dan ada pula yang senang bermain catur. Kebiasaan tersebut akhirnya terkode pada DNA dan diturunkan pada generasi penerusnya. Begitulah pada akhirnya akan terlahir para pemanah dan pencatur pada generasi setelahnya. Seiring berjalannya waktu, kemampuan manusia semakin variatif. Begitulah keajaiban evolusi manusia. Gen-gen bermutasi mengikuti perkembangan zaman untuk menolak punahnya sebuah peradaban.
     
Sejatinya, banyak sekali cara manusia di dunia ini dalam menyampaikan pesan. Ada yang dianugerahkan kemampuan visual. Mereka mampu bercerita melalui lukisan, foto, pahatan, dan karya seni lainnya. Ada pula yang diberikan kelebihan dalam kemampuan verbal. Dalam kelompok inipun terbagi lagi ke khas-an yang berbeda-beda. Ada yang menjadi seorang orator, yang dengan kata-katanya mampu menggerakkan beribu-ribu massa. Menjadi seorang pendongeng yang mengisahkan kisah-kisah ksatria negara dan agama pada tunas-tunas penerus peradaban. Beberapa memilih hijrah dari satu tempat ibadah ke tempat ibadah lainnya tanpa meminta bayaran, berkhotbah menyiarkan pesan Tuhan. Dari sekian banyak cara tersebut, ada segelintir orang yang memilih menjadi penyair dan penulis. Menautkan sebuah pesan pada untaian kata indah nan serasi.
     
Awan kelabu telah berganti gelap. Perkuliahan telah ditutup dengan ucapan selamat sore. Pencurah ilmu yang semula ada dihadapan kami telah berlalu menghilang di balik pintu. Kelas kembali dikuasai kegaduhan. Masing-masing tenggelam dalam perbincangan. Lima anak dipojok kelas terdengar membicarakan tempat tujuan makan, malam ini. Tiga di samping kiriku heboh merencanakan agenda shopping bulanan. Dua lagi di samping kananku asyik menguliti kacang untuk menyumpal mulut. Seorang anak berlalu ke arah pintu sambil mengunyah sesuatu di dalam rongga mulutnya. Dihadapanku, sosok tambun Lina, meringis kelaparan. Tak ada yang masih memperbincangkan hal-hal luar biasa tadi. Mereka telah lupa pada pembahasan berat tiga menit yang lalu.

"Ah, hidup akan selalu kembali pada masa-masa yang biasa,"gumamku, setelah mendengus kecewa.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Tangannya kian beku merabai kaca jendela. Didengarnya suara hujan. Nafasnya dalam terhembus panjang. Berembun. Angin menjamahnya menjadi bulir-bulir air. Dua atau tiga detik membuatnya bergulir, merembes pada celah jemari. Meresap ke dalam pori.
          
"Ah, sudah tujuh bulan"

Tatapannya masih kosong, menerawang dari balik jendela. Seperti tujuh bulan yang lalu. Masih sama. Ada yang tak terisi dalam dirinya. Persis di dalam hati. Mendung di sudut matanya yang masih saja enggan untuk beranjak, harusnya berlalu dengan rasa kasih yang hampir habis menguap. Sebenarnya Ia hanya bimbang. Membenci ia tak mampu, memafkanpun ia belum rela.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Detik jam di pergelangan tangannya seirama satu banding dua dengan detak jantungnya. Ia yang sembari tadi diam bergeming, masih saja memandangi tetes air yang jatuh dari langit. Yang kasat mata dari fokus matanya. Dipeganginya cangkir kopi yang mulai dingin. Ia ragu-ragu. Tak terhitung sudah berapa kali cangkir terangkat lalu bertemu kembali dengan permukaan meja. Tak pernah sekalipun cairan pekat hitam itu mengalir disepanjang kerongkongannya. Bagaimana tidak, melewati celah bibirpun tak pernah. Rongga mulutnya ia biarkan kering semenjak tadi. Dari awal sejak ia meletakkan kedua belah bokongnya di kursi rotan kedai kopi pinggiran rel kereta api.
           
“Ah, tak terasa sudah tujuh bulan”

Masih tentang tujuh bulan. Tema yang sama sejak beberapa hari yang lalu. Setiap ia teringat tentang tujuh bulan, barulah detak jantungnya berpacu lebih cepat. Menjadi empat atau lima kali dalam satu detik jam tangannya. Setelahnya hanya debar yang kian menguat yang bisa ia rasa. Detik jam tak lagi terdengar. Matanya mulai memerah. Panas kepalanya. Darah di otaknya mendidih. Bulan ini 31 hari ia akan meratapi tentang tujuh bulan. Ia benci dengan dirinya sendiri, memikirkan jika harus ada 12 bulan yang ia ratapi dalam setahun dan tahun berikutnya akan berlipat ganda.
     
"Tuhan, aku ingin ikhlas"

Doanya tak pernah panjang. Cukup satu kalimat permintaan yang terlafalkan diantara kedua bibirnya. Ia percaya Tuhan pasti paham. Entah bersama dengan apa do'anya menuju langit ketujuh, karena sejak tujuh bulan yang lalu, Tuhan masih saja belum menjawab doanya. Doa satu-satunya.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Beginilah kiranya jika memelihara hidup dalam kesendirian tanpa beroleh seorang kekasih. Terjaga tengah malam hilang akal hendak mengenangkan perihal apa. Mencari-cari perkara yang bisa untuk dikenangkan. Mengisi hati yang mendadak senyap dihantam oleh kelengangan malam. Apabila jiwanya ialah pujangga maka akan tercipta sajak-sajak bagus dan serasi. Tetapi akan jadilah ia sebagai sajak tak bertuan. Indah, namun hilang maknanya lantaran tak menaruh tujuan.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Tiadalah kuasaku dalam menyinggung perkara cinta yang telah lewat. Bahkan jika dalam hal menagih janji yang kau lisankan dengan hiasan tutur yang melenakan. Salah pula jika saya memegang paham "Apalah faedahnya mengikrarkan janji suci dalam kesakralan jika nantinya ikatan yang tersimpul kan terberai jua karena rapuh ucapmu"

Cinta hanyalah masalah ketika Tuhan mengarahkan hati pada suatu hati. Ketika kita dihadapkan pada pilihan yang sempurna, tetap saja cinta takkan menjadi ketika Tuhan tidak sedang mengarahkan. Hakikatnya cinta berhak tumbuh dimana saja. Besarlah malu saya meminta-minta kecintaanmu terhadapku yang telah tiada itu.

Nyatanya telah berapa kali saya menyatakan ikhlas, meski sebenarnya tidak pernah saya rasakan rela melihat engkau bercinta-cintaan dengan wanita selain daku. Hakikatnya pula begitulah cara manusia berkilah dengan sakit atas penanggungan rasa cintanya yang tak sampai pada maksud hati.

Janganlah berfikir saya tak pernah mencoba jalan baru. Sayapun ada pula berandai-berandai hidup bahagia dengan orang lain selain engkau. Tidak pula saya ingin menjadi orang yang merugi dimasa depan. Bertambah pula paham saya bahwa orang yang terjebak pada masa lalu adalah orang yang tak berbelas kasih dengan orang yang akan hidup dalam masanya yang akan datang.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Jika kau mengenal cinta, disanalah akan kau temukan Tuhan. Seseorang yg akan kau anggap lancang dalam menghadirkan atau mengangkatnya hingga tercerabut untuk pemaknaan cinta dalam pandangan sempitmu. Keputusan akal dangkalmu dalam mengutuki rasa sakit yang kau sendiripun takkan pernah mengerti bagaimana terciptanya. Dalam kesadaran bahwa bukan kau yang bertanggungjawab untuk menangkalnya. Jika harus kau amin-i ada kuasa yang tak bisa kau tolak, dengan setiap caranya itulah Tuhan mengajarimu memahami cinta.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Jika mencintaimu adalah bentuk kegilaan, maka sisa hidupku adalah ketidakwarasan. Dan aku tak ingin menjadi normal untuk tahu segala ke-morbid-an ini.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Semasa patah hati, sakit hati atau remuk hatinya adalah bahan bakar terbesar seorang pujangga menciptakan sajak-sajak indah nan bagus dan serasi. Begitu pula halnya ketika sedang jatuh cinta. Sesuatu yang berkaitan dengan rasa cinta dalam hati, entah itu yang membuat kadar endorfin meningkat dalam tubuh atau malah sebaliknya, mampu membuat imaji seseorang luntang-lantung tanpa batas. Lantas, jika hilang dari ucapnya atau gores penanya akan kata-kata yang indah itu, maka patutlah muncul kecurigaan jika cinta itu telah hilang dari hatinya.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

"Tempat ini tak pernah sepi ya Bang kalau hari mulai senja." Gadis berwajah bundar itu mengambil posisi untuk duduk di sebelahku. Obrolan pembuka yang hangat meski kami pun sama-sama tau bahwa kalimat tersebut hanyalah basa-basi yang amat dipaksakan.

"Kau benar Alita. Terlebih ketika musim panas berangin seperti saat ini, langit senja tak hanya indah dengan semburat jingga mentari yang hendak kandas di garis cakrawala. Banyak sekali layang-layang bermacam warna dan bentuk saling berebutan ruang." Obrolan dari mulutku keluar dengan lancar meski tenggorokanku serasa tercekat.

"Kau tau kan aturan main disini Alita?" Aku menatapnya lekat-lekat, mencoba melihat reaksi dari wajahnya.

"Tau Bang. Siapa yang lebih dulu memegang benang layangan yang telah putus dari sambungan benang si pengendali pertama, dia lah yang berhak memiliki layangan itu." Ia menundukkan wajahnya menghadap ke tanah sambil membuat coretan abstrak dengan ranting pohon yang entah sejak kapan ia genggam di tangannya.

"Dari aturan itu aku menjadi lebih lega untuk melepasmu Alita. Takdir. Ya, takdir. Aturan itu aku maknai sama dengan takdir. Setiap orang berhak mengejar layang-layang yang telah putus itu. Orang yang paling kuat dan cepat dalam berlari pastilah akan kita duga sebagai orang pertama yang akan mendapatkan layang-layang. Tapi ternyata tidak semudah itu Alita. Ketika tinggal sejengkal lagi ia merengkuh layang-layang tersebut bisa saja angin yang lumayan kencang berhembus dan menerbangkan layang-layang menjauh dari gapaian tangannya. Bisa jadi angin tersebut membawa layang-layang tadi tepat dihadapan pengejar lain yang pada saat bersamaan tidak sedang mengejar layang-layang yang satu itu melainkan yang satunya lagi." Aku mencoba menahan getir dihati. Tatapanku ku arahkan ke langit mencoba menatap beberapa layangan yang benang pengendalinya saling bergesekan.

"Begitulah yang terjadi pada hidup orang-orang di dunia ini Alita. Banyaknya pengorbanan, jerih payah dan derita yang mereka hadapi demi menggapai harapan tak serta merta dapat mewujudkan segalanya. Ada tangan-tangan tak terlihat yang berkuasa mengendalikan kehidupan." Aku memalingkan wajahku agar Alita tak melihat bulir-bulir air mata yang mendesak keluar mulai tak tertahankan lagi.

"Pergilah Alita. Kumohon pergilah sekarang juga. Aku telah ikhlas. Tak baik sekiranya jika kau tetap disini. Kau telah jadi pinangan lelaki lain. Takkan baik pandangan orang terhadapmu melihat kita berduaan disini." Aku mencoba memblok wajahku dengan lengan. Kubenamkan wajah diantara sela tekukan kakiku.

"Maafkan Alita Bang Zein." Ia berjalan menjauh dari tempatku.

Cahaya-cahaya keemasan yang semula memenuhi langit kini telah banyak tergantikan oleh ruang tak berwarna. Layang-layang yang semula memenuhi ruang pandangan kini tinggal hitungan jari. Langkah mantap yang semula ragu telah pula hilang dari pendengaran lenyap termakan jarak yang kian bertambah. Aku tak sempat menangkap sosoknya ketika susut dari jangkauan mata. Hanya untuk menatap siluet seorang wanita yang telah aku cintai sejak rambutnya masih dikepang dua keberanianku tak bersisa. Aku terlalu takut untuk menyaksikan punggungnya yang menjauh. Tak tau harus bagaimana kumaknai kata maafnya. Kata maaf menyelamatkan egoku untuk sejenak. Aku sedikit lega. Aku tak harus mendengar kata selamat tinggal darinya. Dari seorang wanita yang sangat aku cintai sejak pertama bertemu hingga saat ini. Pada pertemuan terakhir kami di batas senja.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

about me

about me

Follow Me

  • google+
  • facebook
  • instagram

Categories

  • cerpen
  • Flight of Ideas
  • Mozaik

Blog Archive

  • ►  2014 (11)
    • ►  September (1)
    • ►  November (6)
    • ►  Desember (4)
  • ►  2015 (1)
    • ►  Januari (1)
  • ▼  2016 (1)
    • ▼  Desember (1)
      • Kenangan
Diberdayakan oleh Blogger.

Visitors

Followers

pengunjung online

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates